Industri makanan dan minuman di Indonesia terus berkembang seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin fokus pada rasa, harga terjangkau, kesehatan, dan kejelasan informasi produk. Konsumen kini lebih selektif, memilih makanan dan minuman yang aman, halal, praktis, serta memiliki manfaat nyata bagi kesehatan, tanpa mengorbankan cita rasa yang sudah familiar.

Hasil Riset ini berdasarkan beberapa sumber yaitu : data riset internal tantri.id , Innova Market Insight, statista, CRIF Asia

10 Perilaku Konsumen F&B Indonesia

sumber gambar : innova market insight

1. Konsumen makin selektif di tengah tekanan ekonomi

Konsumen Indonesia kini lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman. Isu kesehatan, keamanan pangan, dan kejelasan informasi produk makin diperhatikan, seiring kondisi ekonomi yang menuntut belanja lebih bijak.

2. Rasa tetap jadi faktor utama, harga harus masuk akal

Di atas segalanya, rasa masih menjadi alasan utama pembelian. Namun konsumen juga mencari harga yang sepadan dengan kualitas, serta produk yang terasa aman dan tidak berlebihan bahan tambahannya.

3. Label bersih dan halal makin diperhatikan

Klaim alami, tanpa pewarna atau perasa buatan, serta sertifikasi halal semakin penting, terutama untuk produk harian seperti makanan siap saji, produk susu, dan camilan.

4. Minuman sehat non-alkohol terus naik

Pasar minuman didominasi produk non-alkohol dengan klaim kesehatan. Minuman bervitamin, mineral, probiotik, dan air minum kemasan semakin diminati karena dianggap praktis dan mendukung gaya hidup sehat.

5. Protein dan gizi jadi nilai tambah utama

Produk dengan kandungan protein, omega-3, dan nutrisi fungsional makin dicari. Ikan, seafood, serta produk berbasis protein dipandang sebagai pilihan sehat dengan manfaat jangka panjang.

6. Makanan siap masak dan siap santap tetap relevan

Kesibukan masyarakat urban mendorong permintaan makanan yang praktis. Produk siap masak dan siap santap diminati selama rasanya enak, gizinya jelas, dan harganya rasional.

7. Camilan halal dan bernilai gizi makin populer

Snack bukan lagi sekadar pengganjal lapar. Konsumen mulai memilih camilan dengan klaim protein, serat, dan bahan alami, tanpa mengorbankan rasa.

8. Produk nabati dan diet khusus tumbuh perlahan tapi konsisten

Makanan nabati, organik, dan produk untuk diet khusus semakin mendapat tempat, terutama di kota besar. Konsumen menilai produk ini lebih sehat dan relevan dengan gaya hidup modern.

9. Transparansi merek jadi kunci kepercayaan

Konsumen Indonesia semakin menghargai brand yang terbuka soal bahan, proses produksi, dan manfaat produk. Informasi yang jelas mendorong loyalitas.

10. Peluang besar bagi brand yang paham kebutuhan lokal

Brand yang mampu menggabungkan rasa lokal, manfaat kesehatan, harga masuk akal, dan cerita produk yang kuat memiliki peluang besar untuk tumbuh di pasar Indonesia.

Gembaran Ekonomi Makro Industri F&B Indonesia

1. Industri F&B tetap jadi pilar ekonomi penting

Industri makanan dan minuman masih menjadi tulang punggung sektor manufaktur di Indonesia, berkontribusi ±7,2% terhadap PDB nasional dan menjadi salah satu sektor terbesar di manufaktur non-migas. Meskipun pertumbuhan melambat dibanding masa pra-pandemi, sektor ini diproyeksikan tumbuh sekitar 5–6% di 2025.

2. Pergeseran konsumsi di tengah tekanan daya beli

Perlambatan daya beli rumah tangga memengaruhi pola belanja: konsumen cenderung memilih makanan penting dan ekonomis, sementara pengeluaran untuk makanan di luar rumah mengalami penurunan proporsi. Namun kebutuhan pokok dan makanan beku menunjukkan kinerja kuat karena faktor harga dan ketersediaan.

3. Pasar F&B domestik & ekspor tetap berkembang

Nilai pasar makanan di Indonesia diperkirakan mencapai ±US$13,02 miliar di 2025 dengan pertumbuhan revenue sekitar 22,4% tahun ke tahun. Sementara itu, ekspor produk F&B Indonesia juga menunjukkan hasil positif dengan nilai mencapai puluhan miliar rupiah, membuka peluang bisnis global.

4. Tantangan eksternal dan strategi adaptasi

Ancaman tarif impor AS sebesar 32% terhadap produk F&B memaksa perusahaan mengevaluasi pricing, sourcing, dan ekspansi pasar ke kawasan ASEAN dan sekitarnya. Tren ini mendorong diversifikasi strategi dan peningkatan integrasi rantai pasok domestik.

Kesimpulan Tren F&B Indonesia & Arah Strategi Bisnis

Industri makanan dan minuman masih menjadi tulang punggung sektor manufaktur di Indonesia, berkontribusi ±7,2% terhadap PDBB & Betumbuh 20% lebih setiap tahun sebagai sinyal positif bagi owner.

Brand yang memahami perilaku konsumen lokal, mampu menyesuaikan harga, serta mengomunikasikan value produk dengan jelas, memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pasar F&B Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

  1. Product Development: Fokus pada produk praktis, bernutrisi, halal, dan berbasis kebutuhan harian dengan rasa yang sudah familiar bagi konsumen lokal.
  2. Pricing: Terapkan harga rasional dan transparan, dengan porsi, kemasan, atau varian yang menyesuaikan daya beli konsumen.
  3. Marketing: Tonjolkan manfaat nyata produk, kejelasan bahan, dan cerita yang relevan, bukan sekadar klaim atau tren sesaat.
  4. Operational: Prioritaskan efisiensi operasional, kontrol biaya, dan pemanfaatan data penjualan untuk pengambilan keputusan cepat.

Dengan aplikasi kasir seperti Tantri, owner dapat melihat performa bisnis secara real-time, sehingga keputusan operasional lebih cepat, efisien, dan terukur.

solusi