Sedang mencari alternatif pemodalan untuk mengembangkan usaha kuliner Anda yang punya risiko rendah? Sudah pernah mendengar sistem bagi hasil?
Sistem bagi hasil adalah sebuah strategi kemitraan untuk mendapatkan modal usaha dengan cara membagi sebagian keuntungan kepada pihak investor. Melalui sistem ini, Anda bisa mendapatkan modal tanpa perlu terjerat utang, karena risiko dan keuntungan ditanggung bersama investor.
Agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan, mari simak panduan lengkap tentang sistem bagi hasil usaha kuliner di artikel ini!
Daftar isi
ToggleKenapa Harus Menggunakan Sistem Bagi Hasil dalam Usaha Kuliner?
Mengajukan pinjaman bank memang salah satu opsi untuk modal, tetapi bunga tinggi dan cicilan tetapnya akan menjadi beban berat. Apalagi kalau bisnis baru belum langsung untung.
Nah, cara lain untuk mendapatkan modal tanpa harus menanggung utang besar salah satunya adalah sistem bagi hasil. Cara ini sangat cocok untuk bisnis makanan dan minuman berkembang karena alasan-alasan berikut.
1. Alternatif Pemodalan Rendah Risiko
Berbeda dengan pinjaman bank yang mewajibkan Anda membayar cicilan pokok plus bunga setiap bulan, sistem bagi hasil dengan investor jauh lebih fleksibel. Dalam skema ini, investor menanamkan modalnya dan sebagai imbalannya akan mendapatkan persentase dari keuntungan bersih yang dihasilkan.
Jika bulan ini bisnis Anda belum profit atau bahkan merugi, maka beban tersebut ditanggung bersama. Investor tidak akan mendapatkan bagian, dan Anda tidak dikejar-kejar kewajiban membayar cicilan.
2. Meningkatkan Motivasi Karyawan
Sistem bagi hasil juga bisa diterapkan untuk karyawan penting, misalnya manajer atau kepala koki. Saat mereka diberi persentase kecil dari keuntungan, mereka akan merasa menjadi mitra yang ikut memiliki bisnis.
Hal ini memotivasi mereka untuk berpikir seperti pemilik. Mereka akan lebih peduli pada cara menekan biaya, meningkatkan penjualan, dan menjaga kualitas layanan. Sebab, keuntungan bisnis juga akan menjadi keuntungan mereka.
3. Mempercepat Pertumbuhan Bisnis
Mendapat modal dari investor dan dukungan dari tim internal yang termotivasi bisa mempercepat pertumbuhan bisnis Anda. Rencana buka satu cabang setahun bisa menjadi dua cabang. Anda dan tim berbagi beban dan tenaga untuk mencapai tujuan lebih cepat.
Melihat manfaatnya, Anda mungkin tertarik. Namun, perlu diketahui bahwa sistem bagi hasil punya beberapa jenis. Memilih model yang tepat sangat penting agar kerja sama adil dan menguntungkan semua pihak.
Jenis-Jenis Sistem Bagi Hasil dalam Usaha Kuliner
1. Bagi Hasil dari Laba Bersih (Net Profit Sharing)
Ini adalah sistem yang paling umum, adil, dan sangat direkomendasikan. Dalam model ini, keuntungan yang akan dibagi adalah keuntungan bersih, yaitu total pendapatan (omzet) setelah dikurangi semua biaya terkait operasional bisnis.
Biaya-biaya tersebut mencakup:
- Biaya Bahan Baku (HPP)
- Biaya Operasional (gaji karyawan, sewa tempat, listrik, air, internet, marketing)
- Pajak dan biaya lainnya.
Sistem ini adil karena investor dan pemilik sama-sama merasakan kondisi riil bisnis. Jika biaya operasional membengkak di satu bulan, maka porsi keuntungan yang akan dibagi pun ikut mengecil. Kedua belah pihak sama-sama termotivasi untuk menjaga efisiensi bisnis.
2. Bagi Hasil dari Laba Kotor (Gross Profit Sharing)
Sistem ini menghitung pembagian keuntungan dari laba kotor, yaitu total omzet dikurangi hanya Biaya Bahan Baku (HPP) saja. Biaya operasional belum dipotong dari angka ini.
Artinya, setelah investor menerima bagiannya, pemilik bisnis masih harus menanggung semua biaya operasional dari porsinya sendiri.
Model ini lebih berisiko bagi pemilik usaha karena porsi keuntungan yang diterima investor tidak terpengaruh oleh efisiensi operasional. Jika biaya sewa atau gaji tiba-tiba naik, beban tersebut sepenuhnya ditanggung oleh pemilik usaha.
3. Bagi Hasil dari Omzet (Revenue Sharing)
Sistem ini paling berisiko bagi pemilik usaha. Sebab, investor akan mendapatkan persentase langsung dari total omzet (total penjualan kotor), tanpa peduli berapa pun biaya yang dikeluarkan bisnis pada bulan tersebut.
Meskipun bulan itu bisnis Anda sedang rugi karena harga bahan baku meroket, investor akan tetap mendapatkan bagiannya dari omzet. Sistem ini sangat dihindari dalam kemitraan usaha kuliner, kecuali dalam kondisi negosiasi spesifik.
Cara Menghitung Bagi Hasil Usaha Kuliner!
Mari kita gunakan satu studi kasus untuk melihat bagaimana hasil yang didapat bisa sangat berbeda tergantung kesepakatan sistem bagi hasil.
Studi Kasus: Warung Sate Makmur di Depok
- Model Kerjasama: Pemilik Usaha (60%) dan Investor Modal (40%).
- Data Keuangan Bulan Agustus:
- Omzet (Total Pendapatan): Rp 80.000.000
- Biaya Bahan Baku (HPP): Rp 30.000.000
- Biaya Operasional (Gaji, Sewa, Listrik, dll.): Rp 20.000.000
Dengan data di atas, mari kita hitung pembagian hasilnya menggunakan tiga metode berbeda.
Contoh 1: Bagi Hasil Berdasarkan Laba Bersih
Langkah 1: Hitung Laba Kotor
Laba Kotor = Omzet – Biaya Bahan Baku (HPP)
Rp 80.000.000 – Rp 30.000.000 = Rp 50.000.000
Langkah 2: Hitung Laba Bersih (Dasar Bagi Hasil)
Laba Bersih = Laba Kotor – Biaya Operasional
Rp 50.000.000 – Rp 20.000.000 = Rp 30.000.000
Langkah 3: Lakukan Pembagian Hasil
Bagian Pemilik Usaha (60%): 60% x Rp 30.000.000 = Rp 18.000.000
Bagian Investor (40%): 40% x Rp 30.000.000 = Rp 12.000.000
Sesuai perhitungan, pembagian model bagi hasil ini terasa adil. Investor mendapatkan hasil yang layak dari investasinya (Rp 12 juta), dan pemilik usaha mendapatkan keuntungan bersih yang jelas (Rp 18 juta) setelah semua biaya bisnis tertutupi.
Contoh 2: Bagi Hasil Berdasarkan Laba Kotor
Pada metode ini, biaya operasional diabaikan dalam perhitungan awal.
Langkah 1: Hitung Laba Kotor (Dasar Bagi Hasil)
Laba Kotor = Omzet – Biaya Bahan Baku (HPP)
Rp 80.000.000 – Rp 30.000.000 = Rp 50.000.000
Langkah 2: Langsung Lakukan Pembagian Hasil
Bagian (Porsi) Pemilik Usaha (60%): 60% x Rp 50.000.000 = Rp 30.000.000
Bagian Investor (40%): 40% x Rp 50.000.000 = Rp 20.000.000
Langkah 3: Hitung Keuntungan Riil Pemilik Usaha
Keuntungan Riil Pemilik = Porsi Pemilik – Biaya Operasional
Rp 30.000.000 – Rp 20.000.000 = Rp 10.000.000
Perhatikan perbedaannya. Investor mendapatkan porsi jauh lebih besar (Rp 20 juta) dibandingkan model laba bersih.
Sementara itu, meskipun porsi pemilik usaha terlihat besar (Rp 30 juta), setelah ia membayar sendiri semua biaya operasional, keuntungan bersih yang ia kantongi hanya Rp 10 juta.
Model ini sangat menguntungkan investor, tetapi berisiko bagi pemilik usaha.
Contoh 3: Bagi Hasil Berdasarkan Omzet
Dalam contoh ini, kita asumsikan kesepakatannya berbeda, misalnya investor mendapat 15% dari total omzet.
Langkah 1: Hitung Porsi Investor dari Omzet
Bagian Investor = Persentase x Omzet
15% x Rp 80.000.000 = Rp 12.000.000
Langkah 2: Hitung Sisa Dana untuk Dikelola Pemilik
Sisa Dana = Omzet – Bagian Investor
Rp 80.000.000 – Rp 12.000.000 = Rp 68.000.000
Langkah 3: Hitung Keuntungan Riil Pemilik Usaha
Keuntungan Riil Pemilik = Sisa Dana – Biaya Bahan Baku (HPP) – Biaya Operasional
Rp 68.000.000 – Rp 30.000.000 – Rp 20.000.000 = Rp 18.000.000
Pada contoh ini, hasilnya kebetulan terlihat adil dan mirip dengan model laba bersih. TAPI, bayangkan jika bulan depan biaya bahan baku (HPP) naik menjadi Rp 45 juta. Laba bersih bisnis sebenarnya hanya Rp 5 juta.
Investor akan tetap mendapat Rp 12 juta (15% dari omzet), yang berarti pemilik usaha justru akan menanggung kerugian karena harus menutupi selisihnya. Inilah mengapa model ini tidak direkomendasikan.
Tips Membangun Sistem Bagi Hasil Usaha Kuliner
1. Buat Perjanjian Tertulis yang Jelas
Aturan paling penting adalah jangan pernah memulai kerja sama bagi hasil hanya berdasarkan kepercayaan atau omongan. Apalagi jika itu dengan teman atau keluarga.
Buatlah perjanjian tertulis yang jelas, sebaiknya dengan bantuan notaris atau pengacara. Perjanjian ini harus mencakup:
- Tugas dan Tanggung Jawab: Siapa yang mengurus bisnis sehari-hari dan siapa yang hanya jadi investor.
- Jumlah Modal: Berapa banyak modal yang diberikan oleh setiap pihak.
- Cara Bagi Hasil: Jelaskan cara dan persentase pembagian keuntungan, serta kapan pembagiannya.
- Pengambilan Keputusan: Aturan untuk mengambil keputusan penting.
- Penyelesaian Masalah: Cara mengatasi konflik atau jika salah satu pihak ingin keluar dari kerja sama.
2. Sepakati Definisi Keuntungan dengan Jelas
Perbedaan pandangan tentang apa itu ‘keuntungan’ sering menjadi masalah dalam kerja sama bagi hasil. Apa yang menurut Anda biaya, bisa jadi tidak sama dengan pandangan partner.
Dalam perjanjian, tentukan dengan sangat jelas biaya apa saja yang akan mengurangi pendapatan sebelum keuntungan dibagi. Diskusikan hal-hal seperti: Apakah gaji pemilik yang bekerja dihitung sebagai biaya? Bagaimana jika ada pembelian aset baru seperti mesin kopi atau kulkas? Apakah itu biaya atau investasi?
Kesepakatan detail di awal akan mencegah perdebatan panjang saat pembagian keuntungan.
3. Pakai Pencatatan Keuangan yang Transparan
Sistem bagi hasil yang adil butuh data akurat dan bisa diakses semua orang. Jika masih pakai pencatatan manual, akan ada ruang untuk curiga dan tidak percaya.
Itu sebabnya, menggunakan aplikasi kasir digital seperti Tantri sangat penting. Setiap transaksi di kedai Anda akan tercatat otomatis dan tidak bisa dimanipulasi. Laporan harian dan bulanan bisa ditarik dengan mudah oleh Anda dan partner. Data objektif ini akan menjadi dasar yang adil untuk menghitung bagi hasil.
4. Lakukan Evaluasi Bersama secara Rutin
Kemitraan yang baik butuh komunikasi rutin. Jadwalkan pertemuan berkala, misalnya sebulan sekali, dengan partner atau investor Anda.
Jadikan pertemuan ini untuk membagikan laporan dan keuntungan, mendiskusikan performa bisnis, tantangan yang ada, dan merencanakan strategi ke depan bersama.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Berapa persentase bagi hasil yang wajar untuk investor?
Tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua bisnis, karena semuanya tergantung pada negosiasi dan besarnya kontribusi masing-masing pihak.
Namun, sebagai gambaran umum, pembagian untuk investor pasif (hanya setor modal) di bisnis F&B biasanya berkisar antara 20% hingga 40% dari laba bersih.
Angka ini bisa lebih tinggi atau lebih rendah tergantung tingkat risiko bisnis, jumlah modal yang diinvestasikan, dan apakah investor juga memberikan kontribusi lain di luar modal.
2. Apakah gaji pemilik yang bekerja aktif harus dihitung sebagai biaya operasional?
Sangat direkomendasikan, ya. Jika Anda sebagai pemilik juga bekerja sehari-hari sebagai manajer atau koki di kedai, Anda berhak mendapatkan gaji bulanan yang wajar. Gaji ini harus dimasukkan ke komponen biaya operasional sebelum laba bersih dihitung.
Dengan begitu, pembagian hasil menjadi adil. Anda digaji untuk pekerjaan Anda, dan Anda mendapatkan bagian profit sebagai imbalan atas kepemilikan dan risiko bisnis Anda.
3. Bagaimana jika bulan ini bisnis merugi? Apakah investor tetap dapat bagian?
Tergantung metode bagi hasil yang Anda sepakati di awal. Jika menggunakan sistem laba bersih, jawabannya adalah tidak. Investor hanya akan mendapat bagian jika ada keuntungan bersih yang dihasilkan.
Jika bisnis merugi, maka kerugian tersebut menjadi risiko bersama. Inilah keunggulan utama sistem bagi hasil dibandingkan pinjaman bank yang harus membayar cicilan terlepas dari kondisi bisnis.
Transparansi Laporan Keuangan untuk Sistem Bagi Hasil dengan Aplikasi Tantri!
Demi menjaga kepercayaan dan transparansi dalam kerja sama bagi hasil Anda, butuh sumber data yang objektif dan tidak bisa dimanipulasi.
Sudah digunakan 1500++ merchant kuliner seluruh Indonesia, aplikasi kasir Tantri memiliki 120+ fitur unggulan yang sudah disesuaikan dengan bisnis FnB.
Beberapa fitur yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem bagi hasil di antaranya Laporan Keuangan untuk melihat total laba bersih bulanan dan Manajemen Stok untuk melacak biaya variabel (HPP) secara akurat.
Dengan semua data tercatat otomatis, tidak ada lagi ruang untuk perdebatan atau keraguan saat waktu bagi hasil tiba. Anda dan partner dapat mengakses laporan yang sama, bersumber dari setiap transaksi di kasir.
Ingin tahu lebih lanjut tentang aplikasi kasir Tantri?







