Anda mungkin pernah mendengar istilah BEP atau Break-Even-Point dalam dunia bisnis kuliner. Istilah ini sering disebut-sebut sebagai salah satu acuan penting untuk memastikan bisnis berjalan di jalur yang tepat.
Namun, sudahkah Anda tahu apa itu BEP dan bagaimana cara menghitung BEP bisnis kuliner? Jika belum, mari ketahui penjelasan lengkapnya di artikel ini, yuk!
Daftar isi
ToggleApa Itu BEP atau Break-Even-Point?
BEP adalah kondisi total pendapatan (omzet) bisnis sama persis dengan total biaya yang dikeluarkan dalam satu periode.
Pada titik ini, Anda tidak mengalami kerugian, tetapi juga belum mendapatkan keuntungan.
Analoginya begini, anggaplah Anda jualan nasi goreng. Setiap porsi yang Anda jual, sebagian uangnya dipakai untuk mengganti biaya bahan baku dan operasional.
BEP adalah saat di mana total uang yang Anda kumpulkan dari semua porsi terjual sudah cukup untuk menutupi semua biaya.
Semua uang yang masuk hanya cukup untuk membayar sewa tempat, gaji karyawan, membeli bahan baku, dan biaya operasional lainnya.
Nah, keuntungan bersih baru akan Anda dapatkan pada penjualan setelah melewati titik impas tersebut. Misal, setelah mencapai BEP di 500 piring, penjualan piring nasi goreng ke-501 adalah profit bersih pertama Anda.
Memahami cara menghitung BEP bisnis kuliner sangat penting karena bisa membantu Anda menentukan target minimum penjualan, merencanakan strategi harga, dan membuat keputusan strategis.
Komponen BEP yang Harus Diketahui
Sebelum mulai menghitung, Anda wajib mengenali dan memisahkan tiga komponen utama dalam keuangan bisnis, yakni:
1. Biaya Tetap (Fixed Costs)
Merupakan biaya wajib yang nominalnya cenderung sama dan harus dibayar setiap bulan. Biaya ini tidak terpengaruh oleh ramai atau sepinya penjualan dalam jangka pendek.
Contoh: Gaji karyawan, biaya sewa tempat, biaya listrik, biaya air, biaya sewa peralatan, biaya internet bulanan.
2. Biaya Variabel (Variable Costs)
Berbeda dengan biaya tetap, biaya variabel adalah semua pengeluaran yang besarannya naik-turun secara langsung mengikuti aktivitas penjualan.
Contoh: Biaya bahan baku makanan dan minuman, biaya kemasan, biaya pengiriman, biaya marketing per produk.
3. Harga Jual per Unit (Selling Price per Unit)
Merupakan harga yang Anda tetapkan dan dibayarkan oleh pelanggan untuk membeli satu porsi produk. Angka yang digunakan adalah harga normal di menu, sebelum dipotong diskon atau promo.
Misalnya, kalau harga satu gelas Es Kopi Susu di menu kedai Anda adalah Rp22.000, maka angka inilah yang menjadi Harga Jual per Unit Anda untuk produk tersebut.
Nah, setelah berhasil memisahkan dan menghitung ketiga komponen ini, Anda sudah siap untuk masuk ke tahap inti, yakni memasukkannya ke dalam rumus BEP.
Tentu saja, proses ini akan lebih mudah kalau bisnis kuliner Anda sudah memiliki sistem pencatatan yang baik. Sebab itu, penting juga memiliki aplikasi kasir (Point of Sale/POS) yang tepat sejak awal.
Cara Menghitung BEP Bisnis Kuliner, Rumus, dan Contohnya
Ada dua cara utama untuk melihat BEP:
- BEP dalam Unit: Berapa banyak produk yang harus terjual.
- BEP dalam Rupiah: Berapa besar omzet yang harus dicapai.
Rumus BEP dalam Unit
Rumus ini digunakan untuk mengetahui berapa banyak unit produk yang harus terjual agar mencapai titik impas.
BEP Unit = Biaya Tetap ÷ (Harga Jual per Unit – Biaya Variabel per Unit)
Contoh perhitungan:
Misalkan Anda memiliki sebuah kedai kopi bernama Kopi Bahagia dengan rincian biaya sebagai berikut:
- Biaya Tetap (sewa, gaji, listrik, dll.) = Rp5.000.000 per bulan
- Harga Jual Kopi per gelas = Rp25.000
- Biaya Variabel per gelas (biji kopi, susu, gula, cup, dll.) = Rp10.000
Dengan data di atas, kita bisa menghitung BEP-nya:
BEP Unit = Rp 5.000.000 ÷ (Rp 25.000 – Rp 10.000)
BEP Unit = Rp 5.000.000 ÷ Rp 15.000
BEP Unit = 333,33 unit
Artinya, Kopi Bahagia harus menjual minimal 334 gelas kopi per bulan agar tidak rugi. Setelah menjual gelas ke-335, barulah Anda mulai mendapatkan keuntungan.
Rumus BEP dalam Rupiah
Rumus ini digunakan untuk mengetahui berapa total pendapatan yang harus Anda dapatkan agar mencapai titik impas.
BEP Rupiah = Biaya Tetap ÷ (1 – (Biaya Variabel ÷ Pendapatan))
Atau, bisa juga menggunakan rumus lain:
BEP Rupiah = BEP Unit x Harga Jual per Unit
Mari kita gunakan contoh yang sama dengan Kopi Bahagia:
- Biaya Tetap = Rp5.000.000
- Biaya Variabel per Unit = Rp10.000
- Harga Jual per Unit = Rp25.000
- Total Pendapatan (jika berhasil menjual 334 gelas) = 334 x Rp25.000 = Rp8.350.000
- Total Biaya Variabel (untuk 334 gelas) = 334 x Rp10.000 = Rp3.340.000
Mari kita hitung dengan rumus pertama:
BEP Rupiah = Rp5.000.000 ÷ (1 – (Rp3.340.000 ÷ Rp8.350.000))
BEP Rupiah = Rp5.000.000 ÷ (1 – 0,4)
BEP Rupiah = Rp5.000.000 ÷ 0,6
BEP Rupiah = Rp8.333.333,33
Hasil ini menunjukkan bahwa Kopi Bahagia harus mendapatkan pendapatan minimal Rp 8.333.333 per bulan agar mencapai titik impas. Jika dihitung dengan rumus kedua, hasilnya akan sama:
BEP Rupiah = 334 unit x Rp25.000
BEP Rupiah = Rp8.350.000
Hasilnya tidak jauh berbeda. Perbedaan kecil ini terjadi karena pembulatan angka.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Setelah Menghitung BEP?
Setelah tahu BEP bisnis kuliner Anda, langkah selanjutnya adalah menggunakan data ini untuk mengambil keputusan, seperti:
- Evaluasi Harga Jual: Apakah harga yang Anda terapkan sudah realistis? Jika terlalu rendah, kemungkinan sulit mencapai BEP.
- Efisiensi Biaya: Adakah cara untuk mengurangi biaya tetap atau biaya variabel? Misalnya, mencari supplier bahan baku yang lebih murah atau mengurangi biaya operasional yang tidak perlu.
- Tentukan Target Penjualan: Dengan BEP di tangan, Anda bisa menetapkan target penjualan lebih jelas. Setelah itu, target bisa dinaikkan untuk mencapai target keuntungan.
Nah, untuk mempermudah pengambilan keputusan ini, Anda bisa memanfaatkan fitur-fitur dari aplikasi kasir yang dapat membantu memantau penjualan dan keuangan bisnis.
FAQ
1. Apakah BEP hanya untuk bisnis yang baru berjalan?
Tidak. BEP penting untuk bisnis di semua tahap, baik yang baru mulai maupun yang sudah berjalan lama. BEP harus dihitung secara berkala, misalnya setiap bulan, untuk memantau kesehatan keuangan bisnis.
2. Apakah BEP bisa berubah-ubah?
Ya. BEP akan berubah jika ada salah satu komponen berubah, misalnya harga bahan baku naik, gaji karyawan naik, atau Anda melakukan promosi besar-besaran yang mengubah harga jual.
3. Apa bedanya BEP dan laba bersih?
BEP adalah titik laba Anda sama dengan nol. Sementara itu, laba bersih adalah total keuntungan yang Anda dapatkan setelah semua biaya dikurangi dari total pendapatan.
4. Apakah BEP bisa digunakan untuk menentukan harga jual?
Ya, justru BEP bisa menjadi penentu harga jual. Anda bisa menghitung mundur dari target laba yang diinginkan untuk menentukan harga jual paling pas.
Buat Laporan Keuangan Lebih Mudah dengan Tantri!
Perhitungan BEP memang terlihat sederhana. Namun, dalam bisnis kuliner, Anda harus melacak semua pengeluaran dan pemasukan secara detail. Mulai dari biaya bahan baku, gaji karyawan, sewa, hingga biaya operasional lainnya.
Untungnya, ada Tantri, aplikasi kasir digital yang memudahkan semua operasional bisnis dengan 120+ fitur unggulan, termasuk Laporan Keuangan!
Dengan fitur Laporan Keuangan di aplikasi Tantri, Anda bisa mengetahui kondisi keuangan dengan mudah, mulai dari melihat berapa produk terjual, pendapatan, pemasukan, dan pengeluaran pada periode tertentu.
Semua bisa diakses dengan rapi, kapan saja dan di mana saja!
1500++ merchant kuliner seluruh Indonesia sudah merasakan operasional bisnis yang lebih efisien bersama Tantri, sekarang giliran bisnis Anda!







